MINI BOOK DAKWAH MULTIKULTURAL DAN LINTAS BUDAYA
Mini book
Dakwah
multikultural
Dan Lintas Budaya
Dewi Bahajah Himami Khofshowati
A. Pengertian Dan Ruang Lingkup Dakwah Multikultural
B. BASIS dan PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL
C. Tujuan, Fungsi, Dan Peran Dalam Komunikasi
Antarbudaya
D. Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras dan
Bangsa
E. Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
F. Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah
G. Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non
Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.
H. Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah
Multikultural Modern
I. Budaya dan Ke’arifan Dakwah
KATA PENGANTAR
Puji Syukur yang tak hentinya Saya panjatkan atas kehadirat
Allah SWT. Dzat yang Maha Segalanya yang menciptakan langit dan bumi beserta
isinya. Maha Besar Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya, terutama nikmat
sehat, Islam dan iman. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada
junjungan Nabi akhir zaman yakni Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa umatnya
dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang yakni addinul islam wal
iman.
Saya selaku penyusun mini book tak pernah
henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT. yang dengan campur
tangan-Nya membantu menyelesaikan tugas mata kuliah Dakwah Multikultural dan
Komunikasi Lintas Budaya. Selama penulisan mini book ini tidak lepas dari
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu penulis menyampaikan terima
kasih kepada:
a.
Bapak Abu Amar Bustomi, M.Si,
selaku dosen pengampu mata kuliah Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas
Budaya yang telah memberikan arahan dan materi dalam penulisan mini book ini.
b.
Teman-teman seperjuangan khususnya
pada anggota kelas mata kuliah Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas
Budaya yang telah membantu juga menyuport untuk menyelesaikan mini book ini.
Saya menyadari sepenuhnya masih banyak kekurangan baik
dari segi penulisan atau penyusunan bahasa. Saya sangat mengaharapkan serta
menerima lapang dada dan membuka selebar-lebarnya pintu bagi pembaca yang ingin
memberi saran dan kritik demi memperbaiki kesalahan yang ada. Akhir kata,
semoga mini book ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Surabaya, 27 Juni 2021
A. Pengertian Dan Ruang Lingkup Dakwah
Multikultural
Ditinjau dari segi bahasa, dakwah berasal dari bahasa
Arab “da’awah”. Dakwah mempubyai tiga huruf asal yaitu dal,
aian, dan wawu. Dari ketiga huruf asal ini, terbentuk
bebrapa kata dan ragam makna. Makna tersebut adalah memanggil, mengundang,
minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong,
menyebabkan, mendatangka, mendoakan, mengisi, dan meratapi. Dalam Al-Qur’an
terdapat makna dakwah yaitu mengajak dan menyeru, baik kepada kebaikan maupun
kemusyrikan kepada jalan ke surga atau ke neraka. Makna ini paling banyak
mengisi ayat-ayat Al-Qur’an (46 kali). Kebanyakan dari makna ini mengarah pada
jalan keimanan (39 kali).[1]
Istilah Dakwah Multikultural bukanlah hal yang baru
atau asing di dalam dunia dakwah. Dakwah Multikultural terdiri dari 2 kata
yakni Dakwah dan Multikultural. Untuk bisa memahami secara lebih mudah, maka
peneliti membahasnya satu-persatu :
1.
Dakwah Seperti yang sudah
dijelaskan diatas, dakwah adalah sebuah aktivitas mengajak manusia untuk
melaksan perintah Tuhan, menuju jalan kebaikan dan menjauhi apa yang sudah
dilarang oleh Allah dan RasulNya.
2.
Multikultural Multikultural berasal
dari dua kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya/kebudayaan),
yang secara etimologi berarti keberagaman budaya. Budaya yang mesti
dipahami adalah bukan budaya dalam arti sempit, melainkan mesti dipahami
sebagai semua dialektika manusia terhadap kehidupannya.[2] Dialektika
ini melahirkan banyak wajah, seperti sejarah, pemikiran, budaya, verbal, bahasa
dan lain-lain. Bagi sebagian orang Multikultur belum sepenuhnya dipandang
sebagai suatu pemberian takdir Allah.
Jadi, yang
dimaksud dengan Dakwah Multikultural adalah aktifitas menyeru kepada jalan
Allah melalui usaha-usaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci
utama untuk memberikan pemahaman dan mengembangkan dakwah. Dalam Dakwah
Multikultural, dakwah tidak hanya dipahami sebagai transformasi nilai[1]nilai
Islam yang baik kepada masyarakat di bumi. Namun, hendaknya mengupayakan
kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya positif secara kritis tanpa
terbelenggu oleh latar belakang budaya formal suatu masyarakat.
Ruang
lingkup kajian Dakwah Multikultural yang juga merupakan bidang dari kajian ilmu
dakwah antara lain sebagai berikut :
1.
Mengkaji dasar-dasar tentang adanya
interaksi simbolik da’í dengan mad’u yang berbedalatar belakang budaya yang
dimilikinya dalam rentangan perjalanan dakwah para da’i, nabi dan Rasul
termasuk nabi yang terakhir dan hukti kehadiran Islam di Indonesia adalah
sebagai produk dari kegiatan Dakwah Multikultural.
2.
Menelaah unsur-unsur dakwah dengan
mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, pesan,
dakwah, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu yang mewadahi
keberlangsungan interaksi antarberbagai unsur dalam keberlangsungan dakwah.
3.
Mengkaji tentang karakteristik
manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui
kerangka metodologi dalam antropologi.
4.
Mengkaji tentang upaya dakwah yang
dilakukan oleh masing-masing etnik dan antaretnik, baik lokal-nasional,
regional maupun internasional.
5.
Mengkaji problem yang ditimbulkan
oleh pertukaran antarbudaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka
mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.[3]
B. BASIS dan PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL
Secara faktual, Indonesia adalah bangsa yang memiliki
keanekaragaman suku, bahasa, etnis, golongan, warna kulit, dan agama yang
menjadi aset bangsa yang akan tetap bersatu membentuk harmoni di dalam wadah
keindonesiaan. Secara teologis, keanekaragaman fenomena kehidupan manusia dalam
berbagai aspeknya merupakan kehendak Allah yang harus disikapi dengan penuh
kearifan. Dalam kajian teori politik kontemporer, kebinekaan masyarakat manusia
dalam segala aspeknya dinamakan juga masyarakat multikultural. Namun tidak
jarang potret multi budaya, bahasa, suku, etnis, golongan, dan agama dalam
suatu bangsa rentan menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat.
Dalam konteks keberagamaan, sebagian umat beragama senantiasa
mensosialisasikan ajaran-ajaran agama mereka kepada masyarakat yang plural
dengan tidak mengindahkan wajah pluralitas kehidupan masyarakat dalam segala
aspeknya. Disinilah nilai signifikansi perspektif multikultural perlu dimiliki
oleh siapapun yang hendak menyampaikan pesan-pesan agama dalam masyarakat yang
multikultural. Sebab perspektif multikultural menyuntikkan spirit pengakuan
terhadap pluralitas budaya sekaligus menerima secara positif segala bentuk
pluralitas budaya kehidupan umat manusia tersebut. Dengan demikian, dilihat
dari perspektif multikultural, penyampaian pesan-pesan agama atau dakwah
meniscayakan seorang da’i memahami keanekaragaman kultural masyarakat dan
bersikap positif terhadap keanekaragaman tersebut. Berdakwah secara
multikultural berarti berupaya menciptakan keharmonisan di tengah-tengah
masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi
terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disetarakan. Itulah inti
dari prinsip dakwah multikultural.
Hakikat dakwah merupakan proses mengajak dan memengaruhi orang
menuju jalan Allah yang dilakukan oleh umat Islam secara sistemik. Dari
pengertian tersebut, jelas menunjukkan bahwa kegiatan dakwah membutuhkan
pengorganisasian yang sistemik dan modern serta dapat dikembangkan melalui
kajian epistemologinya baik menyangkut strategi, prinsip dasar, metode, standar
keberhasilan, dan evaluasi pelaksanaannya.
Sementara multikultural, secara sederhana dapat dikatakan sebagai
pengakuan atas adanya pluralitas budaya. Multikultural yang menjadi paham multikulturalisme
pada hakikatnya mengakui akan martabat manusia yang hidup di dalam komunitasnya
dengan kebudayaannya masing-masing yang spesifik. Dengan demikian, setiap
individu merasa dihargai dan sejalan dengan itu pula merasa bertanggung jawab
untuk hidup bersama di dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat
terhadap kebutuhan untuk diakui (needs for recognition) merupakan akar dari
ketimpangan-ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan.
Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, multikultural merujuk
kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek
bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk
kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia
merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang
sejarah. Kita dapat melihat beberapa ayat berikut, sebagai basis dakwah
multikultural.[4]
Allah menjelaskan dalam QS. Al-Hujarat: 13 “Hai manusia!
Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi
Maha Mengenal”.13 Penggalan pertama ayat di atas sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah pengantar untuk
menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak
ada perbedaan antara satu suku dengan yang lain. Tidak ada juga berbedaan pada
nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan karena semua diciptakan dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pengantar tersebut mengantar pada
kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yakni “Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa”.
Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakDari sini, dakwah multikultural
sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengakuan
doktrinal Islam terhadap keabsahan eksistensi kultur dan kearifan lokal yang
tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja dakwah multikultural
berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan cakupan kulturnya.
Kalau dakwah paradigma kultural hanya fokus pada persoalan bagaimana persoalan
Islam dapat disampaikan lewat kompromi dengan budaya tertentu, maka dakwah
multikultural memikirkan bagaimana pesan Islam ini disampaikan dalam situasi
masyarakat yang plural, tanpa melibatkan unsur “monisme moral” yang bisa
merusak pluralitas budaya dan keyakinan itu sendiri.
Pendekatan multikulturalisme mencoba melihat yang banyak itu
sebagai keunikan tersendiri dan tidak seharusnya dipaksa untuk disatukan,
tetapi tetap berjalan harmonis dalam keragaman. Intinya, pendekatan
multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik
temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan. Dakwah dengan pendekatan
multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian
pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara berdialog untuk
mencari titik temu atau kesepakatan terhadap halhal yang mungkin disepakati,
dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak dapat disepakatiwaan agar menjadi
yang termulia di sisi Allah.[5]
C. Tujuan, Fungsi, Dan Peran Dalam
Komunikasi Antarbudaya
Perkembangan dunia saat ini tampak semakin maju pada apa yang
disebut sebagai suatu global village (desa dunia). Salah satu implikasinya
adalah semakin meningkatnya kontak komunikasi dan hubungan antar Bangsa dan
Negara. Dalam situasi yang demikian, mempelajari masalah-masalah komunikasi
antarbudaya jelas menjadi semakin penting. Karena apabila masing-masing pihak
yang terlibat di dalamnya mempunyai perbedaan dalam aspek-aspek tertentu, misalnya
ideologi, orientasi dan gaya hidup, serta masing-masing pihak tidak mau
memahami pihak lainnya, maka terjadi problema dan mungkin terjadi konflik,
permusuhan, perpecahan dan lain-lain (S. Djuarsa Sundjaja, 1974: 271). Dari
berbagai persoalan tersebut, menimbulkan kesadaran yaitu kesadaran
internasional, kesadaran domestik atau dalam negeri dan kesadaran pribadi.
Hakikat dalam komunikasi merupakan proses pernyataan manusia, yang
dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi
pernyataan dinamakan pesan (message). Seperti halnya komunikasi lintas budaya
juga merupakan proses komunikasi, yang membedakan hanyalah antara komunikator
dan komunikan mempunyai latar belakang budaya yang berbeda.
Dua konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya yaitu konsep
kebudayaan dan konsep komunikasi. Budaya mempengaruhi komunikasi dan gilirannya
komunikasi turut menentukan, menciptakan dan memelihara realitas budaya. Budaya
tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang dan bagaimana
komunikasi berlangsung, budaya juga turut menentukan bagaimana orang
menyampaikan pesan.[6]
Tujuan dakwah dalam komunikasi antarbudaya adalah menjadikan islam
lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun
memiliki perbedaan antara satu sama lain. dapat mencegah terjadi konflik
keagamaan dalam masyarakat. Pesan dakwah yang menyampaikan nilai ketuhanan
sejatinya harus dipahami sebagai perwujudan nilai toleransi, persaudaraan, dan
sebagai wujud dialog internal umat beragama serta sebagai upaya membangun
kesadaran demi terciptanya kerukunan antar umat beragama.
Fungsi dakwah dalam komunikasi antarbudaya
ini adalah mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran islam kepada budaya
masyarakat, menjadi perantara dalam proses komunikasi antar budaya, dan
mengawasi praktik komunikasi antar budaya yang antara komunikator dan komunikan
berbeda kebudayaan.
Peranan dakwah dalam komunikasi antar
budaya. Kehadiran dakwah di tengah umat harus mampu mendorong terjadinya sebuah
perubahan nyata kepada umat baik dalam apek pikir( pemahaman) maupun
perilakunya, sebab ending terbesar dari dakwah adalah mengeluarkan manusia dari
situasi kegelapan dan kemunduran menuju cahaya islam yang berkemajuan dilandasi
dengan nilai-nilai tauhid.[7] Seorang
da'i harus mampu berdialog dengan kebudayaan modern dan secara aktif mengisi
dengan substansi dan nuansa-nuansa islam. Hal ini bisa dilakukan bila kita
memahami arus globalisasi secara benar dan tidak tertinggal dengan informasi
aktual dari mancanegara.Dengan keberhasilan dakwah dalam mewujudkan peranan
sosial, maka dengan sendirinya ajaran islam diyakini tidak hanya mengarahkan
umatnya untuk meraih kehidupan akhirat dengan sukses. Ajaran islam tidak pula
mengenal adanya pemisahan antara hidup dunia dan akhirat, bahkan doktrin islam
menganggap kehidupan dunia adalah sarana untuk ibadah dalam upaya menggapai
kebahagian Akhirat.
D.
Dakwah
dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras dan Bangsa
a)
Radar Bentuk
Komunikasi
Komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi diantara dua latar
belakang budaya yang berbeda. Misalnya
antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, antara suku sunda dengan
suku jawa, antara ras klokasia dengan ras Mongolia. Dalam komunikasi
anatarbudaya ini rawan konflik karena memiliki pengertian atau makna yang
berbeda mengenai suatu perbuatan, seperti bersendawa, dalam budaya
tertentu bersendawa merupakan suatu bentuk pujian terhadap makanan yang
enak, namun dalam budaya bangsa lain itu adalah sebuah ketidak sopanan.
b)
Bentuk-bentuk komunikasi dalam
konteks ilmu lainnya, yaitu :
1.
Komunikasi politik, proses
komunikasi yang dilakukan dalam konteks perpolitikan
2.
Komunikasi kesehatan, proses
komunikasi yang terjadi dalam konteks paramedic
3.
Komunikasi terapetik, proses
komunikasi yang bukan hanya dalam konteks paramedic saja namun ada pula yang
disebut dengan tarapis nonformal seperti tukang pijit, pengobatan alternatif ,
perawat dan sebagainya. Jadi komunikasi terapis adalah komunikasi dalam konteks
terapis dan pasiennya
4.
Komunikasi dakwah, kalau
dalam ilmu dakwah dikatakan bahwa komunikasi adalah bagian dari dakwah, akan
tetapi dari perspektif ilmu komunikasi, dakwah itu adalah salah satu metode
komunikasi. Jadi komunikasi dakwah adalah proses komunikasi dalam usaha
menyampaikan pesan atau nilai-nilai Islam kepada umat manusia.
5.
Komunikasi spiritual, bentuk
komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit dalam textbook ilmu
komunikasi. Komunikasi spiritual merupakan proses komunikasi yang melibatkan
unsur spiritual (rasa). Memiliki alur dua arah dan juga merupakan proses
komunikasi pada tahap yang lebih tinggi, yaitu untuk mencapa konektifitas yang
solid dengan Sang Pencipta dan ciptaannya yang lain.
c)
Teori Etnosentrisme
Etnosentrisme merupakan suatu persepsi atau pandangan
yang dimiliki oleh masing- masing individu yang menganggap bahwa kebudayaan
yang dimilikinya lebih baik dari budaya lainnya atau membanggakan budayanya
sendiri dan mengganggap rendah budaya lain. Secara singkat, etnosentrisme dapat
dikatakan sebagai sikap fanatisme suku bangsa. Orang-orang etnosentris akan
menilai kelompok lain terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri, terutama
bila berkaitan dengan, perilaku, bahasa, kebiasaan, dan agama.
Etnosentrisme meyakini superioritas kelompok etnis
dan kelompok kebudayannya, serta menganggap hina kelompok lain. Menurut
(Taylor, et al., 2009) Etnosentrisme adalah keyakinan in-group lebih unggul
ketimbang semua out-groups. Etnosentrisme adalah kebiasaan setiap kelompok untuk
menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling baik. Semua
kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrime, namun tidak semua anggota
kelompok sama etnosentris. Etnosentrisme adalah kebiasaan setiap kelompok untuk
menganggap kebudayaan kelompok sebagai kebudayaan yang paling baik.[8]
d)
Keberagaman agama dan
kepercayaan di mana di negara kita Terdapat 6 agama dan kepercayaan
1.
Keberagaman Ras
Ras adalah warna kulit, ada mongoloid dan Negroid ada Melanesoid
kalau kita kebagian kulit sawo matang. Dari disini ada faktor penyebab
keberagaman masyarakat Indonesia adalah keberagaman suku bangsa dan budaya ada
keberagaman agama dan kepercayaan dan juga keberagaman ras atau warna kulit.
2.
Keberagaman Dalam Bingkai Bhinneka
Tunggal Ika
keberagaman suku bangsa budaya ras agama dan
antargolongan menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia
kita tidak hanya memiliki keindahan alam tetapi juga keindahan dalam
keberagaman masyarakat Indonesia
3.
Perilaku Toleransi Terhadap
Keberagaman Suku Agama, Ras Dan Antargolongan
Persatuan dan kesatuan di sebuah negara yang beragam
dapat diciptakan salah satunya dengan perilaku masyarakat yang menghormati
keberagaman bangsa dalam mewujudkan perilaku toleransi terhadap keberagaman
tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri bersikap sabar membiarkan orang
berpendapat lain dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat
berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat terhadap martabat manusia,
hati nurani dan keyakinan serta keikhlasan sesama apapun agamanya suku,
golongan, ideologi atau pandangannya.[9]
E.
Dakwah
Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
Kebudayaan iadalah iusaha imanusia iuntuk imemahami idiri isendiri idan imengatasi ipersoalan imelalui ikreasi iakal ibudi idan ipenggunaan isimbol-simbol iyang iada idalam iagama, ibahasa, iseni, isejarah idan iilmu ipengetahuan. iHampir isemua itindakan imanusia iadalah ikebudayaan idan iseluruh itindakan imanusia iadalah itindakan inaluri iatau ibeberapa iyang ibersifat irefleks. iSalah isatu iunsur ikebudayaan iadalah iagama itermasuk iIslam. iAgama iIslam, iselain isebagai iwahyu iTuhan ijuga imerupakan ihasil icipta, irasa idan ikarsa idi imana iIslam ihadir, itermasuk ikehadirannya idi iNusantara. iSehingga iagama idan ibudaya isesuatu iyag itidak idapat idipisahkan, itermasuk iIslam idan ibudaya iNusantara.
Istilah iNusantara idigunakan ikarena ikata iitulah iyang ipaling itepat iuntuk imenggambarkan iIndonesia isecara ikultural. iSedangkan iIndonesia iberasal idari ikata iIndus iyang iberarti iIndia idan inesos idalam ibahasa iYunani iKuno iyang iberarti ipulau. iBudaya idan iagama isebelum iIslam imasuk isangat imempengaruhi icorak iIslam idi iNusantara, ibudaya itersebut ijuga isangat imempengaruhi imetode idakwah iIslam. iMasuknya iIslam ike iNusantara ioleh ipara ipedagang idari iTimur iTengah isekaligus imenyampaikan idakwah iIslam ikepada imasyarakat isetempat.
Pendekatan idakwah iyang imereka ilakukan idengan imemahami ibudaya imasyarakat isetempat, imembuat iajaran iIslam idengan imudah iditerima, idamai idan iberkembang isampai ihari iini ibahkan ilebih iluas ilagi ibudaya ikhas iNusantara iharusnya imenjadi ipemersatu isemua iagama iyang iada idi iNusantara isehingga ibisa isaja iorang iJawa iyang iberagama iBudha, iKristen, iIslam ijustru imemiliki ikesamaan. iAgama iboleh iberbeda itetapi ibudaya imenjadi ipengikat idi iantara ikita.
Menjadi ipersoalan iketika ibudaya iNusantara isebagai iidentitas idiri idigantikan idengan isuatu ibudaya iasing iyang idikemas idengan iagama. iPerubahan isosial, ikemajuan iteknologi ikomunikasi imempengaruhi imasyarakat iyang idengan imudah idapat imengakses iapapun itermasuk inilai-nilai ibudaya ilain isehingga ibudaya iasli iNusantara ibisa isaja itergeser ioleh ibudaya ilain iatas inama iagama.
Proses idakwah ilintas ibudaya itidak ibisa ilepas idari iproses ikomunikasi ilintas ibudaya, iyang imana ikeduanya iitu isaling iberhubungan. iDalam ikajian iini idakwah iberperan isebagai ipenyelesai imasalah-masalah iyang ihadir iditengah imasyarakat, idakwah isebagai ijawaban idari iapa iyang isedang idibutuhkan ioleh imasyarakat iuntuk imenyelesaikan imasalahnya. iSedangkan ikomunikasi iberperan isebagai ipenyelaras idan ipengatur ikeseimbangan iantar imasyarakat, ibaik isecara iinvidu iataupun ikelompok. iAgar idalam imelakukan isebuah ikegiatan idakwah inamun idalam ilintas ibudaya iataupun idengan iperbedaan ilatar ibelakang itetap iterjalinnya ikerjasama idan itoleransi iantar iumat iberagama.
Pola iKomunikasi iLintas iBudaya
iKomunikasi iantarbudaya imerujuk ipada ifenomena ikomunikasi idimana ipara ipartisipan iyang iberbeda idalam ilatar ibelakang ikultural imenjalin ikontak isatu i17 isamalain isecara ilangsung imaupun itidak ilangsung. iKetika ikomunikasi iantarbudaya imempersyaratkan idan iberkaitan idengan ikesamaan-kesamaan idan iperbedaan- iperbedaan ikultural iantara ipihak-pihak iyang iterlibat, imaka ikarakteristik- ikarakteristik ikultural idari ipara ipartisipan ibukan imerupakan ifokus istudi idari ikomunikasi iantarbudaya[10], imelainkan iproses ikomunikasi iantara iindividu idengan iindividu idan ikelompok idengan ikelompok
iProses ikomunikasi iyang isudah imasuk idalam ikategori ipola ikomunikasi iyaitu; ipola ikomunikasi ikomunikasi iprimer, ipola ikomunikasi isekunder, ipola ikomunikasi ilinear, idan ipola ikomunikasi isirkular.
a)
iKomunikasi iPrimer
Pola ikomunikasi iprimer imerupakan isuatu iproses ipenyampaian ipikiran ioleh ikomunikator ikepada ikomunikan idengan imenggunakan isuatu isimbol i(symbol) isebagai imedia iatau isaluran. iDalam ipola iini iterbagi imenjadi idua ilambang iyaitu ilambang iverbal idan ilambang inirverbal.
b)
iKomunikasi iSekunder
Pola ikomunikasi isecara isekunder iadalah ipenyampaian ipesan ioleh ikomunikator ikepada ikomunikan idengan imenggunakan ialat iatau isarana isebagai imedia ikedua isetelah imemakai ilambang ipada imedia ipertama.
c)
iKomunikasi iLinear
Linear idi isini imengandung imakna ilurus iyang iberarti iperjalanan idari isatu ititik ike ititik ilain isecara ilurus, iyang iberarti ipenyampaian ipesan ioleh ikomunikator ikepada ikomunikan isebagai ititik iterminal.
d)
iKomunikasi iSirkular
Dalam iproses isirkular iitu iterjadinya ifeedback iatau iumpan ibalik, iyaitu iterjadinya iarus idari ikomunikan ike ikomunikator, isebaga ipenentu iutama ikeberhasilan ikomunikasi. iDalam ipola ikomunikasi iyang iseperti iini iproses ikomunikasi iberjalan iterus iyaitu iadaya iumpan ibalik iantara ikomunikator idan ikomunikan.
Eksistensi idakwah
iakan isenantiasa ibersentuhan idengan irealitas isosio-kultural iyang imengitarinya, isesuai ikonsekuensi iposisi idakwah, idakwah isebagai isatu ivariabel idan iproblematika ikehidupan isosial isebagai ivariabel iyang ilain, imaka ikeberadaan idakwah idalam isuatu ikomunitas idapat idilihat idari ifungsi idan iperannya idalam imempengaruhi iperubahan isosial itersebut, isehingga ilahir imasyarakat ibaru iyang idiidealkan i(khoiru iummah). iSecara isubstansial idakwah imerupakan ipendidikan imasyarakat, iyang idalam ipelaksanaannya itidak ijauh iberbeda idengan icita-cita ipendidikan inasional[11]. iTujuan iseperti idiamanahkan ipendidikan inasional itersebut imenempatkan idimenasi imoral ikeagamaan isebagai ibagian ipenting idalam iproses iberdakwah.
F. Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah
Antara komunikasi dan budaya sangat memiliki keterkaitan yang erat,
di mana salah satu fungsi yang penting dalam komunikasi adalah transmisi
budaya, ia tidak dapat terelakkan dan akan selalu hadir dalam berbagai bentuk
komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Demikian juga
beberapa bentuk komunikasi menjadi bagian dari pengalaman dan pengetahuan
individu. Melalui individu ini kemudian komunikasi menjadi bagian dari
pengalaman kolektif kelompok, publik, audience barbagai jenis dan individu
bagian dari suatu massa. Hal ini merupakan pengalaman kolektif yang
direfleksikan kembali melalui bentuk komunikasi, tidak hanya melalui media
massa, tetapi juga dalam seni, ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Warisan
kemudian adalah dampak akumulasi budaya dan masyarakat sebelumnya yang telah
menjadi bagian dari hak asasi manusia. Hal itu ditransmisikan oleh individu,
orang tua, kawan sebaya, kelompok primer atau sekunder, dan proses pendidikan.
Budaya komunikasi tersebut secara rutin dimodifikasi oleh pengalaman baru yang
didapat
pesan adalah apa yang ditekankan atau yang dialihkan komunikator
kepada komunikan. Setiap pesan sekurang- kurangnya berisi dua aspek utama,
yakni isi dan perlakuan. Isi pesan meliputi daya tarik pesan disertai perlakuan
meliputi penjelasan isi pesan oleh komunikator.
1.
Komumikator
Komunikator dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang
memprakarsai komunikasi,
artinya dia mengawali pengiriman pesan tertentu kepada pihak lain
yang disebut komunikan.
Karakterisitik komunikator berbeda-beda setiap budaya tergantung
latar belakang etnis, ras,
faktor demografis seperti umur dan jenis kelamin. Perbedaan
karakterisitik komunikator
antarbudaya ditentukan oleh nilai dan norma, faktor-faktor makro
seperti penggunaan bahasa,
pandangan tentang pentingnya percakapan dalam konteks budaya, dan
faktor mikro seperti
dialek, aksen serta nilai dan sikap yang menjadi identitas sebuah
etnik.
2.
Komunikan
Komunikan dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang menerima
pesan tertentu.
Tujuan komunikasi akan tercapai jika komunikan dapat memahami pesan
dari komunikator,
dan memperhatikan serta menerima pesan secara menyeluruh. Seorang
komunikan ketika memahami isi pesan tergantung dari tiga bentuk pemahaman,
yakni:
·
Kognitif, komunikan menerima isi pesan sebagai
sesuatu yang benar
·
Afektif, komunikan percaya bahwa pesan itu
tidak hanya benar tetapi baik
·
Tindakan nyata, komunikan percaya atas pesan
yang benar dan baik sehingga mendorong tindakan yang tepat.
3.
Pesan
Dalam proses komunikasi, pesan berisi pikiran, ide, gagasan, atau
perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol. Dalam
model komunikasi antarbudaya, pesan
adalah apa yang ditekankan atau yang dialihkan komunikator kepada komunikan. Setiap
pesan sekurang- kurangnya berisi dua aspek utama, yakni isi dan perlakuan. Isi
pesan meliputi daya tarik pesan disertai perlakuan meliputi penjelasan isi
pesan oleh komunikator.
4. Media
Dalam proses komunikasi antarbudaya, media merupakan tempat atau
saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol yang dikirim melalui media
tertulis, media massa, dan media elektronik. Tetapi terkadang pesan itu tidak
Universitas Sumatera Utara dikirim melalui media, terutama dalam komunikasi
antarbudaya tatap muka. Para ilmuwan sosial menyepakati dua tipe saluran, yakni
saluran sensoris cahaya, bunyi, perabaan, pembauan, dan rasa. Yang kedua adalah
saluran institusional, misalnya percakapan tatap muka, material cetakan, dan
media elektronik. Saluran institusional juga memerlukan saluran sensoris untuk
memperlancar pertukaran pesan.
5. Efek
Efek umpan balik merupakan tanggapan balik dari komunikan kepada
komunikator atas pesan-pesan yang telah disampaikan. Tanpa umpan balik atas
pesan dalam komunikasi antarbudaya, maka komunikator dan komunikan tidak bisa
memahami ide, pikiran, dan perasaan yang terkandung dalam pesan tersebut.
6. Suasana
Salah satu faktor yang penting dalam komunikasi antarbudaya yakni
tempat, waktu, serta suasana sosial, psikologis ketika komunikasi antarbudaya
berlangsung. Suasana itu berkaitan dengan waktu yang tepat untuk bertemu,
tempat rumah, kantor untuk berkomunikasi, dan kualitas relasi formal, informal
yang berpengaruh terhadap komunikasi antarbudaya.
7. Gangguan
Gangguan dalam komunikasi antarbudaya adalah segala sesuatu yang
menjadi penghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator dengan komunikan,
bahkan dapat mengurangi makna pesan antarbudaya. Gangguan terjadi bila pesan
yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Gangguan dapat bersumber
dari komunikator, komunikan, pesan, dan media yang mengurangi usaha bersama
untuk memberikan makna yang sama atas pesan. Gangguan dari komunikator dan
komunikan misalnya karena perbedaan status sosial, latar belakang pendidikan,
pengetahuan, dan kemampuan berkomunikasi. Gangguan dari pesan dapat berupa
perbedaan pemberian makna pesan yang disampaikan secara verbal dan perbedaan
tafsir atas pesan non verbal isyarat tubuh. Sedangkan gangguan dari media dapat
berupa salah memilih media yang tidak sesuai dengan konteks komunikasi, situasi,
dan kondisi yang kurang mendukung terlaksananya komunikasi antarbudaya
Penjelasan diatas berikut merupakan unsur-unsur komunikasi antar budaya guna
menyukseskan keberhasilan dakwah.
G. Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan
Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.
a)
Komunikasi Verbal Lintas budaya
Berkomunikasi
dapat dilakukan secara verbal dan non verbal, Komunikasi verbal adalah
komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata baik yang dinyatakan
secara oral atau lisan maupun tulisan. Sedangkan komunikasi non verbal adalah
penciptaan melalui gerak tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka
dan sentuhan[12].
Bahasa verbal
adalah sarana utama untuk menyatakan fikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa
verbal menggunakan kata-kata yang mempresentatifkan berbagai aspek realitas
individu kita. Dengan kata lain, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang
tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang
mewakili kata-kata itu. Misalnya kata rumah, kursi atau mobil. Realitas apa
yang mewakili setiap kata itu?. Begitu banyak ragam rumah, ada rumah
bertingkat, rumah mewah, rumah sederhana, rumah hewan, rumah tembok, rumah
bilik, dan yang lainnya. Begitu juga kursi, ada kursi jok, kursi kerja, kursi
plastik, kursi malas, dan sebagainya. Kata mobil-pun ternyata tidak sederhana,
ada sedan, truk, minibus, ada mobil pribadi, mobil angkutan dan sebagainya.
Bila kita menyertakan budaya sebagai variable dalam proses
komunikasi tersebut, maka masalahnya akan semakin rumit. Ketika kita
berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan
jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah
pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya,
banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.
Agar komunikasi
kita berhasil, bahasa harus memenuhi tiga fungsi yaitu: untuk mengenal dunia
disekitar kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk menciptakan koherensi dalam
hidup kita. Melalui fungsi pertama kita dapat mempelajari apa saja yang menarik
minat kita, mulai dari sejarah yang hidup pada masa lalu seperti Mesir Kuno.
Kita juga dapat berbagi pengalaman masa lalu dan masa kini yang kita alami, dan
juga pengetahuan yang kita dapatkan dari berbagai media. Fungsi bahasa kedua
adalah sebagai sarana untuk berhubungan dengan orang lain[13].
Fungsi ini berkaitan dengan fungsi komunikasi khususnya fungsi sosial dan
fungsi instrumental. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk
kesenangan kita dan untuk mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan. Melaui
bahasa kita dapat mengandalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang disekitar
kita. Kemampuan orang lain dengan orang lain tidak hanya tergantung pada bahasa
yang sama, namun juga pengalaman yang sama dan makna yang sam dalam kata-kata
yang kita sampaikan. Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup
lebih teratur, saling memahami diantara kita, baik kepercayaan maupun
tujuan-tujuan kita. Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun
kata-kata secara acak melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah
kita sepakati bersama. Akan tetapi kita sebenarnya tidak selamanya dapat
memenuhi ketiga fungsi tersebut, karena meskipun bahasa merupakan sarana
komunikasi dengan manusia lain, sarana ini secara inheren mengandung kendala
karena keterbatasan sifatnya. Seperti dikatakan S.I Hayakawa;” kata itu bukan
objek”. Bila orang-orang memaknai suatu kata secara berbeda, maka akan timbul
kesalahpahaman diantara mereka. menyalurkan dan turut membentuk pikiran.
Kemempuan menyampaikan pesan verbal antar budaya.
Menurut Ohoiwutun dalam
Liliweri dalam berkomunikasi antar budaya ada beberapa hal yang harus
diperhatikan yaitu;1) kapan orang berbicara; 2)apa yang dikatakan; 3)hal
memperhatikan; 4) intonasi; 5) gaya kaku dan puitis serta 6)bahasa tidak
langsung. Ke enam hal tersebut
adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk menyampaikan pesan verbal dalam
komunikasi antar budaya.
b)
Komunikasi
Non-Verbal lintas budaya
Dalam proses non verbal yang relevan
dengan komunikasi antar budya terdapat tiga aspek yaitu; perilaku non verbal
yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan penggunaan dan pengaturan
ruang.
Pentingnya perilaku non verbal ini
misalnya dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang ia katakan tapi bagaimana ia
mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana
emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Secara sederhana, pesan
non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata.
Menurut Larry A. Samovar dan Richard
E. Porter , komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan kecuali rangsangan
verbal dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan
penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi
pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga
tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan;
kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpamenyadari bahwa pesan-pesan tersebut
bermakna pada orang lain.
Sebagai suatau komponen budaya,
ekspresi non verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya
merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian
pengalaman budaya. Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang
ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya –
apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang
memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Kita dapat mengklasifikasikan pesan-pesan nonverbal ini dengan
berbagai cara.Jurgen Ruesch mengklasifikasikan isyarat nonverbal menjadi tiga
bagian.Pertama,bahasa tanda (sign language)-acungan jempol untuk numpang mobil
secara gratis;bahasa isyarat tuna rungu ;kedua,bahasa tindakan (action
language)-semua gerakan tubuh yang tidak digunakan secara eksklusif untuk
memberikan sinyal, misalnya,berjalan;dan ketiga,bahasa objek (object language)-pertunjukan
benda,pakaian,dan lambang nonverbal bersifat publik lainnya seperti ukuran
ruangan,bendera, gambar(lukisan),musik (misalnya marching band),dan
sebagainya,baik secara sengaja ataupun tidak.[14]
c)
Dakwah Dalam
Komunikasi Verbal Dan Non Verbal
Dalam
agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang yang
mengajak agar melestarikan lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama manusia,
saling menghargai dan
menghormati, kompetisi sehat
dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya
ternyata bukan hanya
monopoli khotbah Sang
Pastor di gereja-gereja, nasehat-nasehat mubaligh
di podium, para
politisi dalam kampanye
pemilu atau sikap
biksu dan pendeta bijak
pada keyakinan dan
ajaran-ajaran agama yang berbeda.
Sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan
tradisi suatu masyarakat tidak
hanya monopoli kaum primitif yang
hidup di hutan
nan jauh dari
keramaian kota seperti
suku-suku di Papua dan
Kalimantan, tetapi hampir
setiap masyarakat menyatu
dengan budayanya berhak
untuk melestarikannya.
Pengakuan terhadap
keragaman beragama misalnya,
tidak bisa dilaksanakan
apabila dalam diri seseorang masih ada perasaan curiga dan prasangka
buta yang saling menyalahkan bahkan
mencaci agama dan
kepercayaan yang ada
di luar dirinya.
Meskipun setiap agama mempunyai landasan doktriner untuk
menyebarkan ajarannya, penyebaran tersebut tetap harus dilakukan dalam suasana
saling menghormati kepercayaan agama orang lain. Kasus perkasus tragedi kemanusiaan
atas nama agama
sudah banyak kita
saksikan sebagai bukti
bahwa keragaman perbedaan adalah
keniscayaan yang harus
diakui keberadaannya. Bahkan
suatu proyek pembangunan yang
dilaksanakan pemerintah sering
berakhir dengan benturan
antar aparat dan warga hanya karena proyek pembangunan tersebut
menyinggung dan mengganggu kebiasaan dan adat-istiadat dalam kelangsungan hidup
masyarakat setempat[15].Begitu juga
dengan dakwah, tidak
akan jauh mengalami
nasib yang sama
apabila pelaksanaan dakwah tersebut
tidak memperhatikan dan
mengindahkan nilai-nilai budaya termasuk tradisi beragama yang dianut masyarakat. Dakwah tersebut akan ditolak dan segera ditinggalkan umat.
Padahal, selain untuk
diri sendiri, dakwah
dilakukan untuk membimbing umat. Aktivitas
dakwah pada era
sekarang dituntut melakukan
upaya-upaya dan pendekatan-pendekatan dakwah
yang lebih bisa
mengayomi dan mempertimbangkan budaya-budaya masyarakat tertentu yang
berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses,
maka layaknya suatu proses mesti dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang
lebih terencana, konseptual dan terus-menerus
(continue)seraya terus meningkatkan pendekatan-pendekatan yang
lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah[16].
H. Hambatan Komunikasi Lintas Budaya
Dalam Dakwah Multikultural Modern
Menurut Chaney dan Martin seperti dikutip oleh Sanjaya (2013)
mengungkapkan bahwa Hambatan Komunikasi adalah segala sesuatu
yang menjadi penghalang terjadinya komunikasi yang efektif karena adanya
perbedaan budaya antara komunikator dan komunikan.
sebelum memasuki materi multi artinya banyak cultural
berarti budaya yang artinya adalah dakwah yang konsernya dan fokus pada
penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks keberagaman masyarakat di mana kamu
tentang berbagai hal yang disepakati dan memaklumi bagian-bagian lain yang
tidak mudah secara singkat itu yang dilakukan dalam masyarakat yang beragam budaya
nya untuk mencari titik temu pada hambatan dakwah mungkin banyaknya yaitu
dakwah merupakan tujuan komunikasi maka hambatan dengan komunikasi
budaya.
hambatan komunikasi adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk
terjadinya komunikasi yang efektif karena adanya perbedaan budaya kantor dan
komunikan dalam hal ini dakwah multikultural.
pertama yaitu etrosentris kepentingan
pribadi dan golongan lain atau menolak pendapat orang lain di luar kelompok
atau perbedaan orang lain atau namun dia tidak mampu memahami dan secara
Individual .
kedua yaitu prasangka menurut prasangka
itu berkaitan dengan persepsi terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang
memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang lain Pakainya itu terbentuk
karena keterangan-keterangan yang kurang lengkap
ketiga perbedaan kepentingan kepentingan
akan membuat orang itu selektif dalam menanggapi menghayati dia hanya akan
memperhatikan alasan.
keempat motivasi dorongan yang
membuat manusia berbuat motivasi itu akan mendorong seseorang sesuai dengan
keinginannya kebutuhannya maupun kekurangannya seseorang akan mengembalikan
pesan komunikasi yang tidak sesuai dengan motif
kelima faktor semantik yang
disebabkan karena ada kesalahan bahasa termasuk juga faktor bahasa yang pertama
komunikator salah mengucapkan atau bicaranya terlalu cepat kedua itu karena ada
perbedaan makna dan pengertian yang sama karena dan faktor pengertian konotatif
seorang secara emosional bukan makna kesalahan-kesalahan memaknai orang-orang
dari budaya memiliki maksudnya adalah mereka melihat mendengar merasakan apa
yang mereka anggap budaya pada masyarakat Jawa mereka menggunakan Persamaan
kata lahan berbaik sangka.[17]
Dakwah tidak bisa meniscayakan agama yang beraneka ragam. Karena
ada keanekaragaman itu, maka ada misi dakwah. Agama yang membawa misi
kebahagiaan, memungkinkan menjadi sarang konflik tatkala tafsiran eksklusif
muncul dari masing-masing agama. Sungguh naif. Fenomena ini ada di depan mata
kita, peristiwa Ambon, Poso, hingga serangan Amerika ke Afganistan, semuanya
syarat akan motif agama. Ini menandakan bahwabelum sepenuhnya makna pluralisme
dipahami. Plura;isme agama terhenti pada sebuah wacana dan dialog, tidak
menyentuh esensinya.
Berbicara masalah posisi dakwah dalam kehidupan modern merupakan
suatu hal yang cukup penting, karena persoalan hidup dan kehidupan manusia
semakin kompleks. Untuk memahami persoalan yang dimaksud perlu upaya dan konsep
guna menempatkan dakwah supaya dapat diterima oleh seluruh umat. Agar mampu menghadirkan
Islam sebagai manhaj atau aturan, yang dapat memecahkan problematika kehidupan
manusia. Adapun dalam era modern ini manusia mengalami krisis nilai-nilai
insani, karena manusia tidak sanggup mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang menyebabkan timbulnya perubahanperubahan sosial dan sosial
keagamaan, termasuk perubahan tradisional kepada modern. Sedangkan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan klimatisasi daripada proses perjalanan
akal manusia, sedangkan kedudukan akal sebagai anugerah Allah yang sangat besar
dan berharga yang membedakan makhluk manusia dengan makhluk lainnya.[18]
I. Budaya dan Ke’arifan Dakwah
Budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang
dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latarbelakang kebudayaan yang
berbeda Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan
karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat
bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing. Komunikasi dan
kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya
memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi
komunitas manusia atau kelompok sosial.
Kemudian dalam kaitannya dengan ilmu dakwah adalah pada tujuan dan
fungsi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Tujuan studi dari komunikasi
antar budaya menurut Litvin bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk
mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya
dan isi komunikasinya sendiri. Tentunya dengan terlebih dahulu kita perluas dan
perdalam pemahaman kita terhadap kebudayaan seseorang tersebut.
budaya yang berbeda-beda. Maka dalam pendekatannya pun berbeda
pula. Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang
meliputi :
1)
Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi
simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya
dalam perjalanan dakwah para da’i.
2)
Menelaah unsur-unsur dakwah dengan
mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, materi,
metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan
interaksi berbagai unsur dakwah.
3)
Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik
manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui
kerangka metodologi dalam antropologi.
4)
Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang
dilakukan oleh masingmasing etnis.
5)
Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh
pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka
mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.
Fokus kajian
strategis kebudayaan dakwah Islam, hakikatnya memandang dakwah antar budaya
sebagai sebuah proses berpikir dan bertindak secara dialektis dengan segala
unsur-unsur dakwah dan budaya yang melingkupinya, demi tujuan dakwah, yakni
menciptakan sebuah masyarakat Islam. Strategi dakwah antar budaya merupakan
upaya aktif untuk menyatukan ide pikiran dan gerakan-gerakan dakwah dengan
mempertimbangkan keragaman sosial budaya yang melekat pada masyarakat. Strategi
ini membutuhkan perencanaan matang dan bijak tentang dakwah Islam secara
rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya masyarakat,
baik segi materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah
berlangsung.
Apabila dakwah ingin berhasil dengan efektif dan efisien adalah dengan proses transformasi nilai-nilai budaya, baik dari dalam ke luar atau sebaliknya, hal ini akan berdampak pada keterputusan atau keberlangsungan nilai-nilai budaya yang baru. Proses transformasi ini jalan tengah terhadap keberlangsungan kontinuitas budaya. Dakwah Islam menjadi tawaran dalam proses pembangunan dengan tidak mengabaikan ataupun menerima khazanah budaya lokal. Sebagaimana dalam prinsip kaidahkaidah yurisprudensi Islam, yakni “ memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik”.[19]
[1] Acep, Aripudin, Dakwah
Antarbudaya, h.25
[2] Ali Aziz, Moh. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana, 2004
[3] Maksum, Ali.Pluralisme
dan Multikulturalisme,(Malang:Aditya Media Publishing.2011).h.143
[4] Zaprulkhan, “Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan”, jurnal Mawa”iz, Vol. 8, no. 1 (2017).
[5] Usfiyatul Marfu’ah, “Strategi Komunikasi Dakwah Berbasis
Multikultural”, Islamic Comunication Journal, Vol 02, No 02,
Juli-Desember 2017
[6] Thomas Dye, Politics in States and Communities (New Jersey :
Prentice Hall, 2001), 221
[7] Abdul Wahid. Gagasan dakwah dalam pendekatan komunikasi antar
budaya.
[8] Bilal Syahid, Etnosentrisme Berdampak di Indonesia, Dalam Kajian
Anytar Budaya, Vol. 48, No. 1, Juni- Desember, Yogyakarta, 2016, h. 67.
[9] Channel youtube Rahayu Rintoweni, Keberagamab Suku, Agama,
Ras dan Antar Golongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari
2021
[10] (Rahardjo, 2005: h. 54).
[11] Channel youtube Aby herman official, sosiologi
dakwah, february 2021
[12] Dedy mulyana, ilmu kominikasi suatu pengantar, (Bandung Remaja Rosdakarya), 2003
[13] Menurut Mulyana( 2007)
[14] http://blog.ub.ac.id/juuaaannnn/2014/11/20/perilaku-verbal-dan-non-verbal-pada-komunikasi-lintas-budaya/
[15] Nurcholish Majid, Islam, Doktrin dan
Peradaban,(Jakarta: Paramadina, 1992)
[16] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media
Pratama, 1997)
[17] Video Youtube, Hambatan dan Tantangan Dakwah Multikultral, Mei 2021
[18] Usfiyatul Marfu’ah, STRATEGI KOMUNIKASI DAKWAH BERBASIS MULTIKULTURAL, Islamic Comunication Journal Volume 02, Nomor 02, Juli-Desember 2017
[19] Masykurotus Syarifah, M.H.I. Budaya Dan Kearifan Dakwah. Journal Al-Balagha. Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016
Komentar
Posting Komentar