DEWI BAHAJAH HIMAMI KHOFSHOWATI (B71219061)

HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN


Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang terdiri atas berbagai macam budaya, suku, bahasa, agama, ras, dan etnis. Keberagaman ini menjadikan bangsa Indonesia memiliki sifat beragam, majemuk atau multikultural. Di sini, multikultural seakan dua mata pisau, satu sisi menjadikan kaya akan hasanah kebudayaan, tapi di sisi lain, rentan menimbulkan benturan, perselisihan dan konflik.

Berbicara masalah posisi dakwah dalam kehidupan modern merupakan suatu hal yang cukup penting, karena persoalan hidup dan kehidupan manusia semakin kompleks. Untuk memahami persoalan yang dimaksud perlu upaya dan konsep guna menempatkan dakwah supaya dapat diterima oleh seluruh umat. Agar mampu menghadirkan Islam sebagai manhaj atau aturan, yang dapat memecahkan problematika kehidupan manusia.

Komunikasi selalu menjadi salah satu masalah yang melekat pada konflik antaretnis. Kalau bukan sebagai penyebab terjadinya konflik, maka ia menjadi masalah yang kemudian muncul pascakonflik. Globalisasi yang ditandai dengan kemajuan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang kita rasakan saat ini telah banyak memberikan kemudahan terhadap kehidupan manusia.

Salah satu yang menjadi problem paling besar dalam kehidupan beragama, yang ditandai oleh kenyataan pluralisme, adalah bagaimana teologi suatu agama mendefinisikan diri di tengah-tengah agama lain. Dengan semakin berkembangnya pemahaman mengenai pluralisme agama, berkembanglah suatu paham teologi religionum.[1]

Pembahasan

Menurut Chaney dan Martin seperti dikutip oleh Sanjaya (2013) mengungkapkan bahwa Hambatan Komunikasi adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang terjadinya komunikasi yang efektif karena adanya perbedaan budaya antara komunikator dan komunikan. [2]

sebelum memasuki materi multi  artinya banyak cultural berarti budaya yang artinya adalah dakwah yang konsernya dan fokus pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks keberagaman masyarakat di mana kamu tentang berbagai hal yang disepakati dan memaklumi bagian-bagian lain yang tidak mudah secara singkat itu yang dilakukan dalam masyarakat yang beragam budaya nya untuk mencari titik temu pada hambatan dakwah mungkin banyaknya yaitu dakwah merupakan tujuan komunikasi maka hambatan dengan komunikasi budaya. 

            hambatan komunikasi adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif karena adanya perbedaan budaya kantor dan komunikan dalam hal ini dakwah multikultural. 

 pertama yaitu  etrosentris  kepentingan pribadi dan golongan lain atau menolak pendapat orang lain di luar kelompok atau perbedaan orang lain atau namun dia tidak mampu memahami dan secara Individual .

kedua yaitu prasangka menurut prasangka itu berkaitan dengan persepsi terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang lain Pakainya itu terbentuk karena keterangan-keterangan yang kurang lengkap 

ketiga  perbedaan kepentingan kepentingan akan membuat orang itu selektif dalam menanggapi menghayati dia hanya akan memperhatikan alasan. 

 keempat motivasi  dorongan yang membuat manusia berbuat motivasi itu akan mendorong seseorang sesuai dengan keinginannya kebutuhannya maupun kekurangannya seseorang akan mengembalikan pesan komunikasi yang tidak sesuai dengan motif

kelima faktor semantik  yang disebabkan karena ada kesalahan bahasa termasuk juga faktor bahasa yang pertama komunikator salah mengucapkan atau bicaranya terlalu cepat kedua itu karena ada perbedaan makna dan pengertian yang sama karena dan faktor pengertian konotatif seorang secara emosional bukan makna kesalahan-kesalahan memaknai orang-orang dari budaya memiliki maksudnya adalah mereka melihat mendengar merasakan apa yang mereka anggap budaya pada masyarakat Jawa mereka menggunakan Persamaan kata lahan berbaik sangka. [3]

Dakwah tidak bisa meniscayakan agama yang beraneka ragam. Karena ada keanekaragaman itu, maka ada misi dakwah. Agama yang membawa misi kebahagiaan, memungkinkan menjadi sarang konflik tatkala tafsiran eksklusif muncul dari masing-masing agama. Sungguh naif. Fenomena ini ada di depan mata kita, peristiwa Ambon, Poso, hingga serangan Amerika ke Afganistan, semuanya syarat akan motif agama. Ini menandakan bahwabelum sepenuhnya makna pluralisme dipahami. Plura;isme agama terhenti pada sebuah wacana dan dialog, tidak menyentuh esensinya.

Berbicara masalah posisi dakwah dalam kehidupan modern merupakan suatu hal yang cukup penting, karena persoalan hidup dan kehidupan manusia semakin kompleks. Untuk memahami persoalan yang dimaksud perlu upaya dan konsep guna menempatkan dakwah supaya dapat diterima oleh seluruh umat. Agar mampu menghadirkan Islam sebagai manhaj atau aturan, yang dapat memecahkan problematika kehidupan manusia. Adapun dalam era modern ini manusia mengalami krisis nilai-nilai insani, karena manusia tidak sanggup mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan timbulnya perubahanperubahan sosial dan sosial keagamaan, termasuk perubahan tradisional kepada modern. Sedangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan klimatisasi daripada proses perjalanan akal manusia, sedangkan kedudukan akal sebagai anugerah Allah yang sangat besar dan berharga yang membedakan makhluk manusia dengan makhluk lainnya.[4]



[1] Puteh, Jakfar, Dakwah di Era Globalisasi; Strategi Menghadapi Perubahan Sosial, (Yogyakarta: AK Group, 2006,)

[2] Video Youtube, Hambatan dan Tantangan Dakwah Multikultral, Mei 2021

[3] Video Youtube, Hambatan dan Tantangan Dakwah Multikultral, Mei 2021

[4] Usfiyatul Marfu’ah, STRATEGI KOMUNIKASI DAKWAH BERBASIS MULTIKULTURAL, Islamic Comunication Journal Volume 02, Nomor 02, Juli-Desember 2017

Komentar