DEWI BAHAJAH HIMAMI KHOFSHOWATI
Perkembangan
dunia saat ini tampak semakin maju pada apa yang disebut sebagai suatu global
village (desa dunia). Salah satu implikasinya adalah semakin meningkatnya
kontak komunikasi dan hubungan antar Bangsa dan Negara. Dalam situasi yang
demikian, mempelajari masalah-masalah komunikasi antarbudaya jelas menjadi
semakin penting. Karena apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya
mempunyai perbedaan dalam aspek-aspek tertentu, misalnya ideologi, orientasi
dan gaya hidup, serta masing-masing pihak tidak mau memahami pihak lainnya,
maka terjadi problema dan mungkin terjadi konflik, permusuhan, perpecahan dan
lain-lain (S. Djuarsa Sundjaja, 1974: 271). Dari berbagai persoalan tersebut,
menimbulkan kesadaran yaitu kesadaran internasional, kesadaran domestik atau
dalam negeri dan kesadaran pribadi.
Hakikat dalam komunikasi merupakan proses pernyataan
manusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam “bahasa”
komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message). Seperti halnya komunikasi
lintas budaya juga merupakan proses komunikasi, yang membedakan hanyalah antara
komunikator dan komunikan mempunyai latar belakang budaya yang berbeda.
Dua
konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya yaitu konsep kebudayaan dan
konsep komunikasi. Budaya mempengaruhi komunikasi dan gilirannya komunikasi
turut menentukan, menciptakan dan memelihara realitas budaya. Budaya tidak
hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang dan bagaimana komunikasi
berlangsung, budaya juga turut menentukan bagaimana orang menyampaikan pesan.[1]
Tujuan
dakwah dalam komunikasi antarbudaya adalah menjadikan islam lebih fleksibel dan
mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara
satu sama lain. dapat mencegah terjadi konflik keagamaan dalam masyarakat.
Pesan dakwah yang menyampaikan nilai ketuhanan sejatinya harus dipahami sebagai
perwujudan nilai toleransi, persaudaraan, dan sebagai wujud dialog internal
umat beragama serta sebagai upaya membangun kesadaran demi terciptanya
kerukunan antar umat beragama.
Fungsi dakwah dalam komunikasi antarbudaya
ini adalah mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran islam kepada budaya
masyarakat, menjadi perantara dalam proses komunikasi antar budaya, dan
mengawasi praktik komunikasi antar budaya yang antara komunikator dan komunikan
berbeda kebudayaan.
Peranan dakwah dalam komunikasi antar
budaya. Kehadiran dakwah di tengah umat harus mampu mendorong terjadinya sebuah
perubahan nyata kepada umat baik dalam apek pikir( pemahaman) maupun
perilakunya, sebab ending terbesar dari dakwah adalah mengeluarkan manusia dari
situasi kegelapan dan kemunduran menuju cahaya islam yang berkemajuan dilandasi
dengan nilai-nilai tauhid.[2] Seorang da'i harus mampu berdialog dengan
kebudayaan modern dan secara aktif mengisi dengan substansi dan nuansa-nuansa
islam. Hal ini bisa dilakukan bila kita memahami arus globalisasi secara benar
dan tidak tertinggal dengan informasi aktual dari mancanegara.Dengan keberhasilan
dakwah dalam mewujudkan peranan sosial, maka dengan sendirinya ajaran islam
diyakini tidak hanya mengarahkan umatnya untuk meraih kehidupan akhirat dengan
sukses. Ajaran islam tidak pula mengenal adanya pemisahan antara hidup dunia
dan akhirat, bahkan doktrin islam menganggap kehidupan dunia adalah sarana
untuk ibadah dalam upaya menggapai kebahagian akhirat.

Komentar
Posting Komentar