BASIS dan PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL
Basis dan pendekatan Dakwah Multikultural
Dewi Bahajah Himami Khofshowati
Dakwah Multikultural dan Lintas Budaya
B71219061/Semest 4
Komunikasi Penyiaran Islam
B71219061@student.uinsby.ac.id
Abstrak
Secara faktual, Indonesia adalah bangsa
yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, etnis, golongan, warna kulit, dan
agama yang menjadi aset bangsa yang akan tetap bersatu membentuk harmoni di
dalam wadah keindonesiaan. Secara teologis, keanekaragaman fenomena kehidupan
manusia dalam berbagai aspeknya merupakan kehendak Allah yang harus disikapi
dengan penuh kearifan.
Disinilah
nilai signifikansi perspektif multikultural perlu dimiliki oleh siapapun yang
hendak menyampaikan pesan-pesan agama dalam masyarakat yang multikultural.
Sebab perspektif multikultural menyuntikkan spirit pengakuan terhadap
pluralitas budaya sekaligus menerima secara positif segala bentuk pluralitas
budaya kehidupan umat manusia.
Kata Kunci: Multikultural, Budaya
Pembahasan
Secara faktual, Indonesia adalah bangsa
yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, etnis, golongan, warna kulit, dan
agama yang menjadi aset bangsa yang akan tetap bersatu membentuk harmoni di
dalam wadah keindonesiaan. Secara teologis, keanekaragaman fenomena kehidupan
manusia dalam berbagai aspeknya merupakan kehendak Allah yang harus disikapi
dengan penuh kearifan. Dalam kajian teori politik kontemporer, kebinekaan
masyarakat manusia dalam segala aspeknya dinamakan juga masyarakat multikultural.
Namun tidak jarang potret multi budaya, bahasa, suku, etnis, golongan, dan
agama dalam suatu bangsa rentan menimbulkan konflik sosial di tengah
masyarakat.
Dalam
konteks keberagamaan, sebagian umat beragama senantiasa mensosialisasikan
ajaran-ajaran agama mereka kepada masyarakat yang plural dengan tidak
mengindahkan wajah pluralitas kehidupan masyarakat dalam segala aspeknya.
Disinilah nilai signifikansi perspektif multikultural perlu dimiliki oleh
siapapun yang hendak menyampaikan pesan-pesan agama dalam masyarakat yang
multikultural. Sebab perspektif multikultural menyuntikkan spirit pengakuan
terhadap pluralitas budaya sekaligus menerima secara positif segala bentuk
pluralitas budaya kehidupan umat manusia tersebut. Dengan demikian, dilihat dari
perspektif multikultural, penyampaian pesan-pesan agama atau dakwah
meniscayakan seorang da’i memahami keanekaragaman kultural masyarakat dan
bersikap positif terhadap keanekaragaman tersebut. Berdakwah secara
multikultural berarti berupaya menciptakan keharmonisan di tengah-tengah
masyarakat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi
terhadap segala bentuk perbedaan yang tidak mungkin disetarakan. Itulah inti
dari prinsip dakwah multikultural.
Hakikat dakwah merupakan proses mengajak
dan memengaruhi orang menuju jalan Allah yang dilakukan oleh umat Islam secara
sistemik. Dari pengertian tersebut, jelas menunjukkan bahwa kegiatan dakwah
membutuhkan pengorganisasian yang sistemik dan modern serta dapat dikembangkan
melalui kajian epistemologinya baik menyangkut strategi, prinsip dasar, metode,
standar keberhasilan, dan evaluasi pelaksanaannya.
Sementara
multikultural, secara sederhana dapat dikatakan sebagai pengakuan atas adanya
pluralitas budaya. Multikultural yang menjadi paham multikulturalisme pada
hakikatnya mengakui akan martabat manusia yang hidup di dalam komunitasnya
dengan kebudayaannya masing-masing yang spesifik. Dengan demikian, setiap
individu merasa dihargai dan sejalan dengan itu pula merasa bertanggung jawab
untuk hidup bersama di dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat
terhadap kebutuhan untuk diakui (needs for recognition) merupakan akar dari
ketimpangan-ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan.
Sebagaimana
telah diungkapkan sebelumnya, multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan
yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya,
suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan
menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus
sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihat
beberapa ayat berikut, sebagai basis dakwah multikultural. [1]
Allah menjelaskan dalam QS. Al-Hujarat: 13
“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”.13 Penggalan pertama ayat di atas
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya
sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan yang lain.
Tidak ada juga berbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan
karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pengantar
tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat
ini yakni “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
yang paling bertakwa”. Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakDari
sini, dakwah multikultural sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah
kultural, yakni pengakuan doktrinal Islam terhadap keabsahan eksistensi kultur
dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja
dakwah multikultural berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan
cakupan kulturnya. Kalau dakwah paradigma kultural hanya fokus pada persoalan
bagaimana persoalan Islam dapat disampaikan lewat kompromi dengan budaya
tertentu, maka dakwah multikultural memikirkan bagaimana pesan Islam ini
disampaikan dalam situasi masyarakat yang plural, tanpa melibatkan unsur
“monisme moral” yang bisa merusak pluralitas budaya dan keyakinan itu sendiri.
Pendekatan
multikulturalisme mencoba melihat yang banyak itu sebagai keunikan tersendiri
dan tidak seharusnya dipaksa untuk disatukan, tetapi tetap berjalan harmonis
dalam keragaman. Intinya, pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha
untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam
perbedaan. Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran
dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat
plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap
halhal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak
dapat disepakatiwaan agar menjadi yang termulia di sisi Allah.[2]

Komentar
Posting Komentar