DEWI BAHAJAH HIMAMI KHOFSHOWATI

KOMUNIKASI DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

-          Juni 12, 2020

 

Abstrak

Perubahan sosial merupakan sebuah isu yang tidak akan pernah selesai untuk diperdebatkan. Ada sekelompok orang yang optimis dengan perubahan sosial, ada pula sekelompok lain yang justru pesimis dengan perubahan sosial. Perubahan sosial menyangkut kajian dalam isu sosial yang meiputi tiga dimensi waktu yang berbeda: Dulu, Sekarang, dan Masa depan. Untuk itulah masalah sosial yang terkait dengan isu perubahan sosial merupakan masalah yang sulit untuk diatasi dan diantisipasi. Namun, disisi lain masalah sosial yang muncul dimasyarakat hampir semuanya merupakan konsekuensi perubahan sosial. Komunikasi adalah salah satu dari kegiatan sehari-hari yang benar-benar terhubung dengan semua kehidupan manusia, dari segi informasi, mekanistis, persuasive hingga pragmatis. Komunikasi pun mampu menciptakan perubahan sosial yakni merubah kehidupan manusia dari fase primitif menjadi fase modern hingga fase postimodern.  Perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang mencakup seluruh kehidupan masyarakat baik pada tingkat individual, kelompok, masyarakat, negara dan dunia yang mengalami perubahan.

Kata kunci: Komunikasi, Perubahan Sosial

 

Pembahasan

Secara etimologis istilah komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio atau communis yang berarti kesamaan makna mengenai suatu hal. Sedangka ditinjau dari sudut terminologis, komunikasi diartikan sebagai suatu proses berbagi pesan melalui kegiatan penyampaian pesan dan penerimaan pesan (smbl-simbol yang bermakna) baik secara verbal (gerakan tubuh, wajah, dan mata) sehingga orang-orang yang berperan sebagai pengirim dan penerima pesan memperoleh makna yang timbal balik atau sama dengan pesan yan dipertukarkan.

Setiap komunikasi yang dilakukan pasti memiliki tujuan, tujua komunikasi terdiri dari tiga macam, yaitu: (a) bersifat informatif, yaitu dengan menyampaikan ide gagasan, sesuatu hal dan lain-lain dengan pendekatan pikir; (b) persuasif, yaitu bertujuan untuk menggugah perasaan orang, dengan pendekatan emosional, dan (c) hiburan, yaitu komunikasi yang bertujuan menghibur atau menyenangkan seseorang melalui peraggan-peragaan tertentu.

Perubahan sosial pada dasarnya adalah perubahan yang terjadi dalam strktur dan pola hubungan dalam suatu masyarakat. Seangkan pola hubungan itu sendiri terbentukmelaluiinteraksi atau komunikasi, sehingga disini menjadi jelas bahwa perubahan yang terjadi dalam masyarakat berarti pula menjadi perubahan dalam komunkasi atau interaksinya. Interaksi yang bersifat asosiatif atau mendekatkan, seperti kerjasama,  asimilasi dan akomondasi akan menjadikan pola interaksi dalam suatu sistem sosial terbentuk kuat. Sebaliknya sistem diasasosiatif atau menjauhkan, yaitu persaingan,perselisihan, dan konflik akan menjadikan pola-pola  interaksi sosialnya menjadi lemah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi dan perubahan sosial sangat berhubungan erat. Perubahan sosialbisa mucul karena pengaruh alami maupun oleh faktor yang dibuat oleh manusia. Faktor yang kedua ini terkait erat dengan adanya interaksi sosial, penyebaranda masuknya budaya lain erta stratifikasi masyarakat yang terbuka meupakan dua hal yang memudahkan terjadinya perubahan.

Perubahan sosial tidak terlepas dari perubahan kebudayaan. Kingsley Davis mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari   perubahan kebudayaan. Perubahan kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, bahkan perubahan dalam bentuk serta aturan organisasi sosial. Sebagai contoh, perubahan dalam bidang teknologi komunikasi dari bentuk telegram hingga telepon seluler (handphone). Akan tetapi perubahan itu tidak memengaruhi organisasi sosial masyarakat. Secara teroretis, perubahan sosial dan perubahan kebudaya dapat dipisahkan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah menentukan garis pemisah antara keduanya karena tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan. Sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan tanpa ada masyarakat sebagai pendukung.

Pola perunahan, terdapat tiga pola utama dalam pola perubahan yang umumnya dikenal, yaitu evolusi revolusi, modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, dan biokrasi. Masing-masing pola ini memiliki ciri-ciri tertentu.

 1. Evolusi, dilihat dari konteks arah, kemutakhiran, peningkatan keragaman, dan kompleksitas. Pola perubahan tersebut bersifat kumulatif. Pola-pola ini bisa diteliti secara kualitatif (evolusi sistem hukum dan agama) dan kuantitatif (stratifikasi, produksi pangan dan konsumsi energi).

2. Teori Divusi, berkembang secara alternatif dari evolusi dan didasarkan kepada elemen penyebaran elemen budaya. Elemen budaya yang diperkenalkan dikondisikan terhadap keuntungan relatif, kompatibilitas, kompleksitas, bisa dicoba dan diamati oleh masyarakat. Divusi dianggap sebagai suatu unsur penting dalam suatu perubahan terencana.

 3. Modernisasi, merujuk pada peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat temporer dan bisa tanpa proses modernisasi. Modernsiasi terjadi bersamaan dengan peningkatan diferensiasi ekonomi, organisasi politikn dan lingkup budaya. Manusia modernisiasi dicirikan dengan mempunyai akses yang baik terhadap informasi, efesien dan bebas mencoba.

 4. Industri, mencakup pembangunan suatu pabrik dengan kekuatan mekanis. Indikasi dari industrialisasi adalah proporsi tenaga kerja di pertanian. Industrialisasi terjadi seiring dengan suatu kelmpok kerja, pergeseran dari pertanian ke jasa industri dan pabrik, penciptaan spesialisasi dan pekerjaan baru, pendidikan yang lebih baik dan perubahan demografi.

 5. Urbanisasi, bisa terjadi tanpa industrialisasi bermukim diperkotaan menghasilkan gaya hidup perkotaan yang sangat berbeda. Saat ini urbanisasi berkembang sangat cepat  di negara-negara berkembang yang terkait dengan gaya hidup dan konsep yang berbeda.

6. Biokrasi, adalah perubahan yang merujuk pada rasionalitas yang lebih besar. Perubahan dalam pengambilan keputusan dan peningkatan efesiensi dalam mencapai tujuan organisasi

Perubahan sosial terjadi karena ada faktor pendorongnya. Dua faktor pendorong terjadinya perubahan sosial adalah faktor yang datang dari dalam masyarakat sendiri (internal) dan faktor pendorong yang datang dari luar masyarakat (eksternal).

Faktor Internal

Perubahan sosial dapat terjadi karena faktor-faktor yang berlangsung dalam masyarakat itu sendiri, yaitu sebagai berikut.

1.      Bertambah atau berkurangnya penduduk

Pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan perubahan struktur dalam masyarakat, terutama lembaga kemasyarakatan. Misalnya timbul sistem hak milik individual atas tanah. Demikian juga sama halnya dengan berkurangnya penduduk desa yang mungkin disebabkan adanya urbanisasi. Contohnya, perpindahan penduduk desa ke kota di pulau jawa umumnya dilakukan kaum laki-laki, tidak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga.

2.      Penemuan-penemuan baru

Penemuan-penemuan baru dibedakan dalam pengertian invention dan discovery. Invention adalah proses menghasilkan unsur kebudayaan baru dengan mengombinasi atau membangun kembali unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada dalam masyarakat. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan baru, baik berupa alat ataupun gagasan. Seringkali proses dari discovery sampai ke invention membutuhkan suatu rangkaian penciptaan. Misalnya, penemuan mobil dimulai dari usaha seorang Austria, yaitu S. Marcus, membuat motor gas pertama.

       Faktor Eksternal

            Selain dari dalam masyarakat, perubahan sosial budaya juga dapat terjadi karena faktor-faktor yang datang dari luar masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah berikut.

1.      Lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia

Terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, angin topan, banjr dan semacamnya mengakibatkan masyarakat harus pindah ke tempat tinggal yang baru. Mereka harus baradaptasi dengan keadaan alam yang baru yang menuntut perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat.

2.      Peperangan

Peperangan dengan negara lain dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan karena biasanya negara yang menang dalam peperangan akan memaksakan kebijakannya terhadap negara vyang kalah. Bentuk-bentuk pemaksaan tersebut adalah dominasi kebudayaan, dominasi politik dan dominasi ekonomi. Contohnya, negara Jerman mengalami perubahan ketatanegaraan bahkan ideologi setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II.

3.      Pengaruh kebudayaan masyarakat lain

Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat memiliki kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Artinya, masing-masing masyarakat selain memengaruhi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang lain. Penyebaran kebudayaan atau pengaruh dari satu daerah ke daerah lain ini dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung dan proses ini disebut difusi.

       Di samping faktor yang mendorong terjadinya perubahan, terdapat juga beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan di dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut.

1.      Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain menyebabkan suatu  masyarakat tidak mengetahui perkembangan yang dapat memperkaya kebudayaan masyarakat tersebut.

2.      Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat yang disebabkan oleh kehidupan masyarakat yang tertutup.

3.      Sikap masyarakat yang masih mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif.

4.      Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis, setiap usaha perubahan pada unsur-unsur budaya rohaniah, biasanya diartikan dengan usaha yang berlawanan dengan ideologi masyarakat yang sudah menjadi dasar kehidupan masyarakat tersebut.

5.      Kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.

       Dampak yang terjadi pada perubahan sosial dibedakan menjadi dua, yakni diantaranya sebagai berikut.

1.      Dampak Positif

Pertama, Munculnya penemuan baru yang dapat membantu aktivitas manusia. Contoh dari penemuan yang sangat membantu aktivitas manusia adalah penemuan internet, komputer dan ponsel pintar. Kedua, Munculnya nilai dan norma baru yang lebih relevan.

2.      Dampak Negatif

Pertama, Perubahan yang terlalu cepat dapat menimbulkan anomie, yaitu keadaan dimana dinali lama sudah tidak relevan dan nilai baru belum terbentuk. Orang jadi kehilangan nilai dan norma sebagai pegangan hidup. Kedua, kemunduran moral terhadap generasi baru.

 

Kesimpulan

 

       Mengenai perubahan sosial kajian yang menarik untuk dikaji lebih luas dalam artian masyarakat mengalami perubahan setiap saat. Perspektif ini dilandasi oleh perubahan yang terjadi tidak saja kepada perubahan struktur melainkan perubahan kepada perilaku atau tingkah laku individu atau kelompok. Sehingga perubahan sosial dapat kita lihat dari beberapa sudut pandang yang berbeda dalam mengatasi kehidupan yang akan datang.

       Perubahan itu mempunyai faktor pendorong dan faktor penghalang. Faktor pendukung perubahan sosial menyebabkan perubahan sosial budaya terjadi dalam masyarakat. Tentu saja perubahan yang terjadi tersebut mempunyai dampak pada masyarakat. Perubahan pada lembaga-lembaga sosial itu selanjutnya mempunyai pengaruhnya pada sistem-sistem sosilnya, termasuk dib dalamnya nilai-nilai, pola-pola perilaku ataupun sikap-sikap dalam masyarakat itu yang terdiri dri kelompok-kelompok sosial.

 

Daftar Pustaka

       Kun Maryati dan Juju Suryawati. Sosiologi  Jilid 3 Penerbit Eirlangga. 2001.

       Ali Alamsyah Kusumadinata, Pengantar Komunikasi Perubahan Sosial Yogyaarta:  CV Budi Utama. 2015.

        Indraddin dan Irwan. Strategi dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: CV Budi Utama, 2016.

 

 

 

 

.

      

     

 

 

 

Komentar